Tumbuh dengan Iman. Belajar dengan Gembira.
THISDIT Tunas Harapan Ilahi

JOYFUL ISLAMIC LEARNING

Joyful Learning.
Meaningful Growing.

Sekolah dasar Islam terpadu di Sepatan dengan pengalaman belajar yang hangat, menyenangkan, dekat dengan anak dan keluarga.

Al-Qur'anAkhlak MuliaAcademic GrowthKemandirian

PROFIL SEKOLAH

 

Keras berbeda dengan kasar. Orangtua yang mendidik anaknya dengan keras tetap dapat menunjukkan kelembutan dan kasih-sayang

 

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

 

ADA dua hal yang seolah bertentangan, padahal sebenarnya seiring sejalan. Keduanya harus ada dalam mendidik anak, sehingga kehadirannya tidak dapat dipertentangkan satu sama lain. Satu hilang, runyamlah pendidikan. Yang satu menguatkan jiwa, yang satu menguatkan pegangan anak pada nilai dan sikap yang jelas. Dua hal itu adalah kelembutan dan ketegasan. Keduanya perlu kita miliki dalam mendidik. Tidak bisa salah satunya saja.

Memenangkan kelembutan saja, apalagi jika karena alasan lebih sesuai dengan teori parenting mutakhir, akan dapat menggelincirkan pada sikap meremehkan sunnah berkait dengan ketegasan. Salah-salah bukan hanya meremehkan. Lebih dari itu bersikap nyinyir mencibir atau bahkan merendahkan tuntunan karena dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman.

Menjadi orangtua adalah perjalanan untuk mengasah keduanya sekaligus dan kadangkala kita perlu melakukan keduanya secara bersamaan.

Ini memerlukan usaha untuk melatih diri disertai ilmu. Tanpa mengilmu, maksud hati berlemah-lembut kepada anak, tetapi akibatnya justru tak mendidik. Seolah lembut, padahal yang tersisa hanyalah kelemahan. Hal yang sama juga berlaku untuk ketegasan. Betapa sering ingin menunjukkan sikap tegas, tetapi tanpa takaran yang tepat, terlebih jika tidak disertai ilmu, yang kita maksudkan sebagai ketegasan itu justru menjelma sebagai sikap keras lagi kasar.

Sungguh, sangat berbeda antara keras (apalagi kasar) dengan tegas. Banyak orang keras dan kasar, tetapi tak ada ketegasan pada dirinya. Mereka mudah marah, tetapi keputusannya dengan cepat berubah. Sikapnya beralih karena keadaan atau merasa sedikit terdesak. Saat anak meminta es krim, dengan kasar orangtua menolak.

Ketika anak merengek, semakin kasar orangtua menampik permintaan anak. Tetapi begitu ada tamu datang, buru-buru permintaan anak dikabulkan, meskipun dengan cara yang tetap kasar. Uang disodorkan, padahal tadinya menyampaikan kepada anak kalau tak ada uang.

Ini merupakan contoh sederhana bagaimana keras dan kasar itu sama sekali berbeda dengan tegas. Pada kasus tersebut, orangtua bahkan bukan sekedar kasar. Orangtua juga menunjukkan kebohongan yang besar kepada anak.

Padahal, ada tuntunan khusus komunikasi orangtua kepada anak di dalam AL-Qur’anul Kariim, yakni berbicara dengan qaulan sadiidan (perkataan yang benar).

Ketegasan itu sangat diperlukan oleh anak. Ia memerlukan keyakinan dan pijakan yang kokoh. Ketegasan mengajarkan kepadanya tentang betapa pentingnya bersikap konsisten terhadap aturan, keyakinan dan agama. Komitmen tidak bernilai tanpa konsistensi. Anak tak dapat belajar memiliki komitmen ketika melihat bagaimana perkataan mudah diciderai. Sebaliknya, anak sulit untuk belajar konsisten manakala yang tampak seolah tegas itu identik dengan keras dan kasar.

Keras itu adakalanya diperlukan sejauh takarannya pas. Orangtua memiliki ilmu yang memadai untuk menakar maslahat – madharatnya, pun waktu serta cakupan masalah yang perlu disikapi. Ini berarti, orangtua harus mengilmui agar sikap tersebut tidak rancu dengan kasar, tidak pula membuat anak lari dari dirinya, lebih-lebih dari agama. Cara mendidik inilah yang kita dapati pada diri Asaduddin Syirkuh, paman dari Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi.

Menghadapi keponakannya yang cengeng, Asaduddin mendidiknya dengan keras beriring tulusnya kasih-sayang seraya menunjukkan besarnya tanggung-jawab yang kelak harus dipikul oleh Yusuf. Sikap keras itu menghilang seiring terbentuknya kepribadian Yusuf bin Najmuddin Al-Ayyubi yang kian kokoh. Kelak kita mengenal Yusuf sebagai pembebas Masjid Al-Aqsha yang sangat dihormati, teguh pendirian, kuat tekadnya dan ia mendapat sebutan Shalahuddin Al-Ayyubi.

Keras berbeda dengan kasar. Orangtua yang mendidik anaknya dengan keras tetap dapat menunjukkan kelembutan dan kasih-sayang. Sementara sikap kasar menandakan tercabutnya kelembutan dan itu berarti menjauh dari kebaikan. Sikap keras kerap dianggap sama dengan tegas, padahal sama sekali berbeda. Jika kita mendidik anak dengan keras tanpa mengilmui, yang terjadi adalah pola asuh yang keras dan bahkan kasar, tanpa ada ketegasan. Tanpa empati dan kasih-sayang.

Hal yang perlu diwaspadai oleh mereka yang cenderung keras adalah mengendalikan emosi. Cara mendidik yang cenderung keras hanya akan baik apabila dilakukan oleh mereka yang kendali emosinya sangat kuat. Bukan reaktif yang lebih dekat dengan gegabah dan ceroboh. Tanpa mengilmui dan kemampuan mengendalikan emosi, cara mendidik yang keras akan melahirkan permusuhan. Tak ada kepedulian antar saudara, tak ada empati kepada orang lain, termasuk kepada teman sebaya.

Lembut tapi Tak Mendidik

Kelembutan itu membaguskan segala sesuatu yang ia melekat kepadanya. Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali ia akan membaguskannya. Dan tidaklah ia tercabut dari sesuatu, kecuali akan membawa kepada keburukan. Maka pada sikap tegas, kelembutan itu harus ada. Ketika untuk menegakkan pendidikan kadang harus keras, kelembutan itu harus ada. Tanpa kelembutan, kerasnya sikap menjadi tindakan gegabah dan kasar.

Begitu pentingnya kelembutan sehingga kita perlu mengilmui agar tak keliru. Jangan sampai mengira sebagai kelembutan, padahal ia sesungguhnya telah menjatuhkan kita kepada sikap yang lemah. Jangan pula karena ingin bersikap lembut, anak justru tidak memiliki keyakinan kokoh dan sikap yang jelas sehingga ketika memasuki usia remaja, terombang-ambinglah dirinya. Ia mengalami krisis. Tanpa mengilmui, sikap lembut hamper-hampir tak ada bedanya dengan sikap tak peduli.

Kelembutan itu menghiasi segala sesuatu. Artinya, sesuatu itu harus ada. Mengasuh mendidik anak harus disertai kelembutan. Ini berarti lembut saja tidak cukup. Jika orangtua melimpahi anak dengan kelembutan tanpa menegakkan tugasnya mengasuh, maka anak akan menuai masalah.

Anak kecil belajar mencoba berbagai hal; kadang ia benar, kadang ia salah. Tugas kita membimbing dan memberi respon dengan baik disertai kelembutan sehingga ia dapat belajar dari berbagai kegiatannya. Hanya memberinya kelembutan, tanpa menunjukkan respon yang memadai, anak tak dapat belajar. Jangankan untuk hal-hal yang pelik, sekedar mengucap kata dan berbicara pun, anak perlu rangsang dan respon yang mencukupi, Bukan hanya sering mendengar suara orang berbicara. Rangsang itu antara lain berupa perkataan yang suaranya memang ditujukan kepadanya (shooting voice). Tanpa itu, riuh rendah suara orangtua berbicara maupun bercanda dengan orang lain akan menjadi sekedar kebisingan (noise).

Ada orangtua yang begitu cinta kepada anak. Ia ingin mengasuh dengan lembut. Tetapi yang terjadi, ia hanya menganugerahi anak dengan kelembutan yang tak habis-habis, sementara lisannya tertahan tak bicara. Tak pula sigap ketika anak melakukan sesuatu. Menggeleng dan memberi isyarat dengan jemari memang dapat memahamkan anak tentang maksud kita, tetapi tidak menawarkan pengalaman yang utuh kepada anak. Ia juga kesulitan untuk menirukan bahasa sehingga berdampak sulit memproduksi kata-kata.

Ini hanyalah sekedar contoh. Banyak sekali kasus anak bermasalah bukan karena orangtua kasar. Orangtuanya bahkan sangat lembut. Tetapi manakala tidak diletakkan pada sikap yang ngemong (nurturing) dan responsif, kelembutan itu justru menjadi kelemahan.

Ringkasnya, sikap apa pun perlu kita ilmui. Inilah PR besar sebagai orangtua. Saya pun masih harus terus belajar dan bahkan perlu lebih banyak lagi. Dalam hal ini, peran istri sangat besar untuk senantiasa mengingatkan dan berhenti belajar, termasuk belajar mengendalikan diri.*

Penulis buku-buku parening. Artikel bisa dibaca di FB Mohammad Fauzil Adhim 

 

Sumber : hidayatullah.com

PROFIL SEKOLAH

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR — Sekretaris Institut (SI) Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr Ibnul Qayim, secara resmi membuka Pesta Sains Nasional (PSN) 2017 di Graha Widya Wisuda (GWW) Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (18/11).

Kegiatan yang bertema “Hero of Science” ini merupakan ajang sains tahunan yang diselenggarakan oleh Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) IPB.
 
PSN yang tahun ini digelar dua hari (18-19/11) ini menjadi wadah bagi para siswa SMA/sederajat sebagai  saintis muda dari seluruh Indonesia untuk bertanding dan bereksplorasi tentang sains melalui kompetisi ilmiah. PSN juga menggelar talkshow, dan kegiatan menarik lainnya. “PSN ini diikuti ribuan saintis muda Indonesia,” kata Ibnul Qayim dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (20/11).
. 
Ia menambahkan, semakin banyak generasi muda Indonesia yang terlibat dalam kegiatan sains akan memberikan kesempatan luas untuk belajar tentang banyak hal mengenai sains dan pendidikan. “Kegiatan Pesta Sains Nasional (PSN) 2017 ini menjadi ajang peningkatan minat dan kecintaan generasi muda Indonesia, agar terpacu untuk berprestasi lebih baik lagi,“ ujarnya 

Dekan FMIPA IPB, Dr  Sri Nurdiati mengatakan,  kompetisi dalam PSN ini mencakup semua departemen yang ada di FMIPA IPB, yaitu statistika, geofisika dan meteorologi, biologi, kimia, matematika, ilmu komputer, fisika, dan biokimia. Selain kompetisi, terdapat acara yang diperuntukkan bagi para guru pendamping yaitu seminar keguruan.

Kegiatan PSN ini memperebutkan piala bergilir Presiden Republik Indonesia bagi juara umum, piala bergilir Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI; Piala Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI; piala Dekan FMIPA IPB; serta piala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pada PSN 2017 ini juara umum diraih oleh SMAN 1 Depok Jawa Barat. 

PROFIL SEKOLAH

Oleh : Cahyadi Takariawan

dakwatuna.com – “Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.

Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.

Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.

Hindari Sebutan Nakal

Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.

Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!

Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.

Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.

Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.

Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,

Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat

Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi

Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu

Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah

Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar

Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai

Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil

Bila anak merasa aman, ia belajar percaya

Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya

Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.

Cara Pandang Positif

Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.

Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.

“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.

“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.

Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/09/24/23024/jangan-sebut-anak-anda-nakal/#ixzz2VtwvFgaW

PROFIL SEKOLAH

Oleh Mohammad Fauzil Adhim

 

Bukan harta yang menyebabkan duka atau bahagia, tetapi jiwa kita. Bukan sempat yang menyebabkan kita mampu menjalin hubungan yang lebih erat dengan istri atau suami kita, tetapi selarasnya kondisi ruhiyah kita. Sebab sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam, ruh itu seperti pasukan. Mereka akan mudah bersatu dan cenderung mendekat dengan yang serupa. Sebaliknya akan mudah berselisih, meski senyum masih mengembang di wajah mereka. Hati gelisah, jiwa resah, ketenangan tak lagi kita rasakan dan pelahan-pelahan kita mulai mengalami kehampaan jiwa. Ketika itu terjadi, banyak hal tak terduga yang bisa muncul. Kita bisa mencari “jalan keluar” yang justru semakin menjauhkan satu sama lain, meski masih tinggal serumah, masih sama-sama aktif di kegiatan dakwah yang sama.

 

Maka ada yang perlu kita perhatikan. Bukan hanya bagaimana cara berkomunikasi efektif antara suami-isteri; bukan pula semata soal bagaimana kita memberi perintah yang menggugah kepada anak-anak kita. Lebih dari itu, ada yang perlu kita periksa, adakah ruh kita saling bersesuaian satu sama lain ataukah justru sebaliknya saling berseberangan. Boleh jadi kita bertekun-tekun dan saling melakukan kegiatan yang sama-sama penuh kebaikan, tetapi niat yang mengantarkan dan mengiringi berbeda, maka yang kita dapatkan pun akan berbeda. Sesungguhnya tia-tiap kita akan memperoleh sesuatu niat yang menggerakkan kita melakukan sesuatu.

Sama kegiatan yang kita lakukan, beda niat yang senantiasa menyertai, akan membawa kondisi ruhiyah kita pada keadaan yang berbeda. Itu sebabnya, meski sama-sama bertekun dengan kebaikan yang sama, keduanya dapat menuju tataran ruhiyah yang berbeda atau bahkan saling berseberangan.

Sesungguhnya tiap amal atau ibadah yang kita kerjakan, meski cara sama-sama benar sesuai yang digariskan, niat melakukannya dapat termasuk:

1. Ikhlas karena Allah & Hanya Berharap Ridha Allah
2. Ikhlas karena Allah, tapi Tujuannya Dunia (Syirik Niat)
3. Tidak Ikhlas
• Riya’ dan Tidak Mencari Dunia
• Riya’ dan Mengharap Dunia dari Amalnya
4. Tidak karena Allah, Tidak untuk Akhirat, Tidak Pula untuk Dunia

Hanya niat ikhlas karena Allah ‘Azza wa Jalla dan akhirat tujuannya yang dapat menjadikan hidup kita dan keluarga kita penuh barakah. Maka agar rumah-tangga berlimpah barakah, suami-isteri perlu saling mengingatkan untuk senantiasa meluruskan niat dan menjaga amalnya dari cara-cara yang bertentangan dengan tuntunan dienul Islam.

Inilah yang perlu kita renungi. Inilah yang perlu kita telisik dalam diri kita dan keluarga kita. Jika apa yang sepatutnya kita kerjakan telah kita penuhi, jika komunikasi sudah kita jalin dengan baik, teapi hati kita gersang meski tak ada perselisihan, maka inilah saatnya kita menelisik niat dan orientasi kita dalam beribadah, beramal dan menjalani kehidupan rumah-tangga.

Mari kita ingat sejenak ketika Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

Katakanlah: “Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’aam, 6: 162-163).

Tidak mungkin hidup kita –termasuk keluarga kita—hanya untuk Allah Ta’ala jika shalat dan ibadah kita saja bukan untuk Allah ‘Azza wa Jalla.

Sesudahnya, kita perlu periksa rezeki yang kita dapatkan, adakah ia penuh barakah atau justru sebaliknya tak ada barakah sedikit pun di dalamnya? Atas setiap rezeki yang barakah, bertambahnya membawa kebaikan yang semakin besar, dan berkurangnya tidak menciutkan kebaikan. Mungkin mata kita melihatnya berat, tapi ada ketenangan dan kebahagiaan pada diri mereka, meski mereka nyaris tak pernah bersenang-senang. Sebaliknya jika rezeki tak barakah, bertambahnya semakin menjauhkan hati mereka satu sama lain. Sedangkan berkurangnya membawa hati kita saling bertikai, meski tak ada pertengkaran, atau sekurang-kurangnya menyebabkan terjauhkan dari kebaikan.

Wallahu a’lam bish-shawab.

PROFIL SEKOLAH

Jangan remehkan dakwah kepada anak-anak! Jika telah terikat hatinya dengan Islam, mereka akan mudah bersungguh-sungguh menetapi agama ini setelah dewasa. Jika engkau siapkan mereka untuk siap menghadapi kesulitan, maka kelak mereka tak mudah ambruk hanya karena langkah mereka terhalang oleh kendala-kendala yang menghadang. Tetapi jika engkau salah membekali, mereka akan menjadi beban bagi ummat ini di masa yang akan datang. Cemerlangnya otak sama sekali tidak memberi keuntungan jika hati telah beku dan kesediaan untuk berpayah-payah telah runtuh.

Maka, ketika engkau mengurusi anak-anak di sekolah, ingatlah sejenak. Tugas utamamu bukan sekedar mengajari mereka berhitung. Bukan! Engkau sedang berdakwah. Sedang mempersiapkan generasi yang akan mengurusi umat ini 30 tahun mendatang. Dan ini pekerjaan sangat serius. Pekerjaan yang memerlukan kesungguhan berusaha, niat yang lurus, tekad yang kuat serta kesediaan untuk belajar tanpa henti.

Karenanya, jangan pernah main-main dalam urusan ini. Apa pun yang engkau lakukan terhadap mereka di kelas, ingatlah akibatnya bagi dakwah ini 30 40 tahun yang akan datang. Jika mereka engkau ajari curang dalam mengerjakan soal saja, sesungguhnya urusannya bukan hanya soal bagaimana agar mereka lulus ujian. Bukan. Yang terjadi justru sebaliknya, masa depan umat sedang engkau pertaruhkan!!! Tidakkah engkau ingat bahwa induk segala dusta adalah ringannya lisan untuk berdusta dan tiadanya beban pada jiwa untuk melakukan kebohongan.

Maka, ketika mutu pendidikan anak-anak kita sangat menyedihkan, urusannya bukan sekedar masa depan sekolahmu. Bukan. Sekolah ambruk bukan berita paling menyedihkan, meskipun ini sama sekali tidak kita inginkan. Yang amat perlu kita khawatiri justru lemahnya generasi yang bertanggung-jawab menegakkan dien ini 30 tahun mendatang. Apa yang akan terjadi pada umat ini jika anak-anak kita tak memiliki kecakapan berpikir, kesungguhan berjuang dan ketulusan dalam beramal?

Maka…, ketika engkau bersibuk dengan cara instant agar mereka tampak mengesankan, sungguh urusannya bukan untuk tepuk tangan saat ini. Bukan pula demi piala-piala yang tersusun rapi. Urusannya adalah tentang rapuhnya generasi muslim yang harus mengurusi umat ini di zaman yang bukan zamanmu. Kitalah yang bertanggung-jawab terhadap kuat atau lemahnya mereka di zaman yang boleh jadi kita semua sudah tiada.

Hari ini, ketika di banyak tempat, kemampuan guru-guru kita sangat menyedihkan, sungguh yang paling mengkhawatirkan adalah masa depan umat ini. Maka, keharusan untuk belajar bagimu, wahai Para Guru, bukan semata urusan akreditasi. Apalagi sekedar untuk lolos sertifikasi. Yang harus engkau ingat adalah: “Ini urusan umat. Urusan dakwah.” Jika orang-orang yang sudah setengah baya atau bahkan telah tua, sulit sekali menerima kebenaran, sesungguhnya ini bermula dari lemahnya dakwah terhadap mereka ketika masih belia; ketika masih kanak-kanak. Mereka mungkin cerdas, tapi adab dan iman tak terbangun. Maka, kecerdasan itu bukan menjadi kebaikan, justru menjadi penyulit bagi mereka untuk menegakkan dien.

Wahai Para Guru, belajarlah dengan sungguh-sungguh bagaimana mendidik siswamu. Engkau belajar bukan untuk memenuhi standar dinas pendidikan. Engkau belajar dengan sangat serius sebagai ibadah agar memiliki kepatutan menjadi pendidik bagi anak-anak kaum muslimin. Takutlah engkau kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, jika engkau menerima amanah sebagai guru, sedangkan engkau tak memiliki kepatutan, maka engkau sedang membuat kerusakan.

Sungguh, jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, tunggulah saatnya (kehancuran) tiba.

Ingatlah hadis Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

إِذَا ضُيِّعَتِ اْلأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ: كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: إِذَا أُسْنِدَ اْلأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ.

“Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari Kiamat,” Dia (Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah menyia-nyiakan amanah itu?” Beliau menjawab, “Jika satu urusan diserahkan kepada bukan ahlinya, maka tunggulah hari Kiamat!” (HR. Bukhari).

Maka, keharusan untuk belajar dengan sungguh-sungguh, terus-menerus dan serius bukanlah dalam rangka memenuhi persyaratan formal semata-mata. Jauh lebih penting dari itu adalah agar engkau memiliki kepatutan menurut dien ini sebagai seorang guru. Sungguh, kelak engkau akan ditanya atas amanah yang engkau emban saat ini.

Wahai Para Guru, singkirkanlah tepuk tangan yang bergemuruh. Hadapkan wajahmu pada tugas amat besar untuk menyiapkan generasi ini agar mampu memikul amanah yang Allah Ta’ala berikan kepada mereka. Sungguh, kelak engkau akan ditanya di Yaumil-Qiyamah atas urusanmu.

Jika kelak tiba masanya sekolah tempatmu mengajar dielu-elukan orang sehingga mereka datang berbondong-bondong membawa anaknya agar engkau semaikan iman di dada mereka, inilah saatnya engkau perbanyak istighfar. Bukan sibuk menebar kabar tentang betapa besar nama sekolahmu. Inilah saatnya engkau sucikan nama Allah Ta’ala seraya senantiasa berbenah menata niat dan menelisik kesalahan diri kalau-kalau ada yang menyimpang dari tuntunan-Nya. Semakin namamu ditinggikan, semakin perlu engkau perbanyak memohon ampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wahai Para Guru, sesungguhnya jika sekolahmu terpuruk, yang paling perlu engkau tangisi bukanlah berkurangnya jumlah siswa yang mungkin akan terjadi. Ada yang lebih perlu engkau tangisi dengan kesedihan yang sangat mendalam. Tentang masa depan ummat ini; tentang kelangsungan dakwah ini, di masa ketika kita mungkin telah tua renta atau bahkan sudah terkubur dalam tanah.

Ajarilah anak didikmu untuk mengenali kebenaran sebelum mengajarkan kepada mereka berbagai pengetahuan. Asahlah kepekaan mereka terhadap kebenaran dan cepat mengenali kebatilan. Tumbuhkan pada diri mereka keyakinan bahwa Al-Qur’an pasti benar, tak ada keraguan di dalamnya. Tanamkan adab dalam diri mereka. Tumbuhkan pula dalam diri mereka keyakinan dan kecintaan terhadap As-Sunnah Ash-Shahihah. Bukan menyibukkan mereka dengan kebanggaan atas dunia yang ada dalam genggaman mereka.

Ini juga berlaku bagi kita.

Ingatlah do’a yang kita panjatkan:

“اللهُمَّ أَرِنَا الحَقَّ حَقّاً وَارْزُقْنَا التِبَاعَةَ وَأَرِنَا البَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ”

“Ya Allah, tunjukilah kami bahwa yang benar itu benar dan berilah kami rezeki kemampuan untuk mengikutinya. Dan tunjukilah kami bahwa yang batil itu batil, serta limpahilah kami rezeki untuk mampu menjauhinya.”

Inilah do’a yang sekaligus mengajarkan kepada kita agar tidak tertipu oleh persepsi kita. Sesungguhnya kebenaran tidak berubah menjadi kebatilan hanya karena kita mempersepsikan sebagai perkara yang keliru. Demikian pula kebatilan, tak berubah hakekatnya menjadi kebaikan dan kebenaran karena kita memilih untuk melihat segi positifnya. Maka, kepada Allah Ta’ala kita senantiasa memohon perlindungan dari tertipu oleh persepsi sendiri.

Pelajarilah dengan sungguh-sungguh apa yang benar; apa yang haq, lebih dulu dan lebih sungguh-sungguh daripada tentang apa yang efektif. Dahulukanlah mempelajari apa yang tepat daripada apa yang memikat. Prioritaskan mempelajari apa yang benar daripada apa yang penuh gebyar. Utamakan mempelajari hal yang benar dalam mendidik daripada sekedar yang membuat sekolahmu tampak besar bertabur gelar. Sungguh, jika engkau mendahulukan apa yang engkau anggap mudah menjadikan anak hebat sebelum memahami betul apa yang benar, sangat mudah bagimu tergelincir tanpa engkau menyadari. Anak tampaknya berbinar-binar sangat mengikuti pelajaran, tetapi mereka hanya tertarik kepada caramu mengajar, tapi mereka tak tertarik belajar, tak tertarik pula menetapi kebenaran.

 

***

Jangan sepelekan dakwah terhadap anak! Kesalahan mendidik terhadap anak kecil, tak mudah kelihatan. Tetapi kita akan menuai akibatnya ketika mereka dewasa. Betapa banyak yang keliru menilai. Masa kanak-kanak kita biarkan direnggut TV dan tontonan karena menganggap mendidik anak yang lebih besar dan lebih-lebih orang dewasa, jauh lebih sulit dibanding mendidik anak kecil. Padahal sulitnya melunakkan hati orang dewasa justru bersebab terabaikannya dakwah kepada mereka di saat belia.

Wallahu a’lam bish-shawab. Kepada Allah Ta’ala kita memohon pertolongan. Maafkan saya.

PROFIL SEKOLAH

Acara Camping merupakan acara yang paling ditunggu-tunggu oleh sebagian besar siswa, oleh karena itu sebanyak 120 siswa kelas 5 SDIT THI sangat antusias sekali saat mengikuti PERJUMSA ( Perkemahan Jum’at Sabtu) yang diadakan di Bumi Perkemahan Situ Gintung Ciputat.

Semua siswa tampak bersemangat sekali mengikuti acara demi acara yang dipandu oleh panitia mulai dari outbound sampai dengan berlatih tali temali dan latihan baris berbaris. 

PERJUMSA sendiri adalah kegiatan rutin yang menjadi bagian dari program penanaman karakter yang diadakan oleh SDIT Tunas Harapan Ilahi untuk kelas 5. Acara ini bertujuan untuk menanamkan karakter mandiri, disiplin dan memupuk keberanian siswa

PROFIL SEKOLAH

Ahad, 4 Juni 2017 YPI Tunas Harapan Ilahi bekerjasama dengan QuPro Management mengadakan sebuah event besar ” Buka Puasa Bersama Opick Tombo Ati”. Acara yang sekaligus juga mengadakan penggalangan dana kemanusiaan untuk Palestina ini berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 608.310.100 ditambah dengan sebuah sertifikat rumah.

Hasil dari pengumpulan donasi ini akan disalurkan melalui KNRP ( Komite Nasional Untuk Rakyat Palestina ) untuk dibelikan obat-obatan dan makanan bagi rakyat Palestina yang saat ini masih dijajah oleh Israel.

Acara turut dihadiri oleh Wakil Walikota Tangerang H. Sahrudin dan ditutup dengan doa oleh Ust. Amroji M. Rais selaku ketua KNRP Banten.

PROFIL SEKOLAH

Bertempat di Ballroom Hotel Novotel sebanyak 92 siswa lulusan angkatan ke-3 SDIT THI dan 43 siswa lulusan angkatan ke-3 SMPIT THI diwisuda dalam  acara Haflatul Wada’ YPI THi 2017. 

Acara ini turut dimeriahkan dengan penampilan pertunjukan seni dari adik-adik kelas mereka. Diantara yang ditampilkan antara lain tari Saman, Tari Lenggang Ceria, dll. Yang tak kalah menariknya adalah penampilan Anak2 Teater SDIT dan penampilan Kocak Tari Sarung yang dibawakan oleh Mujahid SMPIT.

PROFIL SEKOLAH

Ahad 25 Maret 2017 sebanyak 165  siswa dan siswi THI mengikuti acara “Khataman dan Imtihan Metode UMMI” yang diadakan di Ballroom Hotel Allium. Dalam acara yang turut dihadiri oleh Walikota Tangerang Bapak H. Arief Wismansyah, B.Sc., M.Kes. ini para siswa THI diuji dengan bermacam pertanyaan dari tamu undangan yang sebagian besar adalah orang tua siswa di THI. Pertanyaan yang diajukan adalah melanjutkan hafalan juz 30 dan juz 29, membaca ghoroibul Qur’an dan mengurai hukum Tajwid. 

Acara Khataman dan Imtihan sendiri merupakan bentuk uji publik bagi kemampuan siswa dalam menguasai bacaan Qur’an setelah sebelumnya mereka menjalani Munaqasyah dan diuji oleh Tim dari Ummi Foundation.

Dalam sambutannya Walikota Tangerang  H. Arief Wismansyah, B.Sc., M.Kes. berpesan agar anak-anak yang sudah menjalani khataman dan Imtihan ini bukan hanya terampil membaca Alqur’an akan tetapi juga mengamalkan isi Al Qur’an. Beliau juga menegaskan ikut mendukung program pembelajaran Alqur’an melalui program Tangerang Mengaji.

PROGRAM & EXPERIENCE

Pengalaman belajar SDIT MoTHI

Konten existing tetap dipertahankan. Bagian ini menjadi wajah modern untuk menampilkan program dan pengalaman belajar sekolah.

1

Qur'an Daily Habit

Konten program existing dapat dipetakan ke section ini tanpa mengubah isi aslinya.

2

Joyful Classroom

Konten program existing dapat dipetakan ke section ini tanpa mengubah isi aslinya.

3

Character Building

Konten program existing dapat dipetakan ke section ini tanpa mengubah isi aslinya.

4

Nature Learning

Konten program existing dapat dipetakan ke section ini tanpa mengubah isi aslinya.

5

Creative Project

Konten program existing dapat dipetakan ke section ini tanpa mengubah isi aslinya.

6

Family Engagement

Konten program existing dapat dipetakan ke section ini tanpa mengubah isi aslinya.

Qur'anCharacter Foundation
AcademicCompetency Growth
FutureSkills & Literacy
StudentLeadership
CommunityPartnership

CAMPUS LIFE

Foto asli, cara penyajian baru

ADMISSIONS

Tumbuh bahagia bersama SDIT MoTHI

Lihat informasi PPDB, program, berita, fasilitas dan profil sekolah dari konten WordPress existing.

Visitasi SekolahJadwalkan kunjungan →